Langsung ke isi
← Semua suku
Suku

Mandailing

Horas

Orang Mandailing tinggal terutama di Kabupaten Mandailing Natal, juga di perantauan, termasuk di Malaysia. Marga yang dikenal antara lain Nasution dan Lubis. Sebagian besar orang Mandailing beragama Islam, dan sebagian tidak menyebut diri mereka Batak. Gordang sambilan, sembilan gendang besar, adalah ansambel musik adat Mandailing.

Wilayah
Mandailing Natal
Bahasa
Bahasa Mandailing
Kekerabatan
Dalian Na Tolu

Sumber: Suku Mandailing — Wikipedia

MandailingFoto: Nasution007 · Wikimedia Commons · CC BY-SA 4.0
Mandailing

Budaya

Gordang SambilanFoto: Nasution007 · Wikimedia Commons · CC BY-SA 4.0
01 Musik

Gordang Sambilan

Gordang Sambilan adalah ansambel sembilan gendang (gordang = gendang, sambilan = sembilan) dengan panjang dan diameter berbeda, terbuat dari kayu berlubang dengan kulit sapi yang diikat rotan. Dahulu dimainkan dalam upacara sakral seperti paturuan Sibaso, mangido udan (meminta hujan), orja godang markaroan boru (perkawinan) dan orja mambulungi (kematian). Kini juga dimainkan pada pernikahan, penyambutan tamu dan hari besar.

Sumber: Gordang Sambilan — Wikipedia · Gordang sambilan — Wikipedia

02 Kekerabatan

Dalian Na Tolu (Dalihan Na Tolu)

Kehidupan sosial-budaya Mandailing berlandaskan adat Dalian Na Tolu ('tiga tungku sejarangan') atau adat markoum-sisolkot (adat berkaum-kerabat), yang terdiri atas mora, kahanggi dan anak boru. Prinsipnya dirumuskan sebagai manat markahanggi, elek maranak boru dan hormat tu mora. Ketiga pihak ini hadir dan berperan dalam upacara adat seperti perkawinan.

Sumber: Bagas Godang — Wikipedia · Pernikahan Adat Mandailing — Wikipedia

Bagas Godang dan Sopo GodangFoto: Christian Advs Sltg · Wikimedia Commons_(01).jpg) · CC BY-SA 4.0
03 Arsitektur

Bagas Godang dan Sopo Godang

Bagas Godang adalah rumah besar raja, berbentuk empat persegi panjang dan berkolong dengan tujuh atau sembilan anak tangga. Satu kompleks dengannya terdapat Sopo Godang (balai sidang adat), Sopo Gondang (tempat menyimpan Gordang Sambilan), Sopo Jago dan Sopo Eme (lumbung padi), semuanya menghadap halaman luas Alaman Bolak. Ornamen pada tutup ari disebut bolang dan berwarna merah, putih dan hitam.

Sumber: Bagas Godang — Wikipedia

04 Tradisi lisan

Markobar

Markobar adalah tradisi lisan berupa berbicara dengan keterampilan khusus dalam upacara adat, misalnya dalam perkawinan (horja). Setiap pembicaraan adat diawali dengan penyajian daun sirih (burangir) bersama gambir, kapur, tembakau dan pinang di atas partaganan, yang disebut napuran. Pihak anak boru bertugas menyuguhkan burangir kepada harajaon, mora dan hatobangon.

Sumber: Markobar Pernikahan Adat Mandailing — Wikipedia

Pakaian adat pengantin MandailingFoto: Nasution007 · Wikimedia Commons · CC BY-SA 4.0
05 Pakaian adat

Pakaian adat pengantin Mandailing

Pengantin perempuan memakai bulang, mahkota emas yang jumlah tingkatnya menandai kedudukan, serta baju kurung hitam bersulam emas dan kain songket. Pengantin laki-laki memakai ampu (penutup kepala beludru hitam berhias emas), bajo godang, bobat (ikat pinggang) dan kain sesamping songket.

Sumber: detik.com

06 Bahasa

Ragam bahasa Mandailing

Menurut Pangaduan Lubis, bahasa Mandailing mengenal lima ragam: hata somal (sehari-hari), hata andung (ratapan dalam upacara perkawinan atau kematian), hata teas dohot jampolak (pertengkaran), hata si baso (khusus si baso atau datu) dan hata parkapur (saat mencari kapur barus). Dahulu juga dikenal hata bulung-bulung, 'bahasa dedaunan' yang memakai daun sebagai lambang. Secara historis bahasa ini ditulis dengan aksara Batak (surat tulaktulak).

Sumber: Bahasa Batak Mandailing — Wikipedia · Mandailing Batak language — Wikipedia

Mandailing

Sejarah

  1. Abad ke-12–14

    Mandala Holing dan Nagarakertagama

    Satu pendapat mengaitkan nama Mandailing dengan 'Mandala Holing', federasi abad ke-12 yang tertera dalam Surat Tumbaga Holing; pendapat lain menurunkannya dari 'mande hilang' (ibu yang hilang). Kitab Nagarakertagama menyebut ekspedisi Majapahit mencapai wilayah Mandailing pada 1365.

    Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Mandailing

  2. 1803–1845

    Perang Padri dan perantauan ke Semenanjung Malaya

    Perang Padri meluas hingga ke wilayah Mandailing dan menyebabkan banyak orang Mandailing bermigrasi, antara lain ke Semenanjung Malaya. Di sana kelompok yang dipimpin Raja Asal dan Raja Bilah, bersama Sutan Puasa, terlibat dalam Perang Klang (1866–1873).

    Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Mandailing_people

  3. 1824–1852

    Masa kolonial Belanda

    Pemerintah Hindia Belanda mulai memasuki Mandailing Natal pada 1824 di bawah Keresidenan Air Bangis (Sumatra's Westkust); pada 1834 wilayah ini berada di bawah Keresidenan Tapanuli. Pada 1852 dibentuk Afdeling Mandailing dan Afdeling Natal.

    Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Mandailing_Natal

  4. 1862

    Willem Iskander dan Kweekschool Tano Bato

    Willem Iskander (Sati Nasution, 1840–1876) dari Pidoli Lombang belajar menjadi guru di Belanda dan, sepulangnya, mendirikan sekolah guru (Kweekschool) di Tano Bato pada 1862. Sekolah ini ditutup dan dipindahkan ke Padangsidempuan pada 1874. Ia juga menulis buku berbahasa Mandailing, antara lain Si Bulus-bulus Si Rumbuk-rumbuk (1872).

    Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Willem_Iskander

  5. 1998

    Pembentukan Kabupaten Mandailing Natal

    Kabupaten Mandailing Natal (Madina) dimekarkan dari Kabupaten Tapanuli Selatan berdasarkan UU No. 12 Tahun 1998 dan diresmikan pada 23 November 1998. Ibu kotanya Panyabungan.

    Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Mandailing_Natal

  6. 2004

    Penetapan Taman Nasional Batang Gadis

    Kawasan hutan di Mandailing Natal ditetapkan sebagai Taman Nasional Batang Gadis melalui Keputusan Menteri Kehutanan tanggal 29 April 2004. Penetapan ini juga dipandang sebagai pengakuan atas kearifan lokal seperti lubuk larangan dan harangan rarangan (hutan larangan).

    Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Taman_Nasional_Batang_Gadis

Kekerabatan

Dalian Na Tolu

Mora, kahanggi dan anak boru. Ditulis Dalian Na Tolu, juga Dalihan Na Tolu. Asasnya: hormat marmora, manat markahanggi, elek maranak boru.

IMora

Mora adalah pihak keluarga pemberi istri (keturunan saudara laki-laki ibu, keluarga pihak istri), yang dihormati karena memberikan anak perempuan (prinsip hormat tu mora).

IIKahanggi

Kahanggi adalah kerabat yang terhubung melalui garis keturunan laki-laki yang sama (semarga), dengan prinsip manat markahanggi (saling memperhatikan).

IIIAnak boru

Anak boru adalah pihak penerima istri, yaitu garis keturunan orang yang mempersunting saudara perempuan kita atau saudara perempuan ayah, dengan prinsip elek maranak boru (bijak membujuk).

Partuturan Mandailing →

Bahasa Mandailing

Kosakata

Kartu kosakata1 / 10
Bahasa MandailingBahasa Indonesia
Dalian Na Tolu tiga tungku sejarangan (sistem kekerabatan mora–kahanggi–anak boru)
adat markoum-sisolkot adat berkaum-kerabat
opat ganji lima gonop empat ganjil, lima genap (sirih, gambir, kapur, tembakau dan pinang harus lengkap)
Tudia? Ke mana?
laing tungkus abit partinggal tetap tersimpan kain kenangan (baris ende ungut-ungut)